Didi Carsidiawan

menggali inspirasi, menggali potensi

Gagalnya Kelompok Pajak Perjuangan

Saat itu, setelah kelulusan, anak-anak yang menamakan kelompok Pajak Perjuangan berkumpul di gedung perpustakaan kampus STAN untuk “menentukan” nasib mereka. Mereka (termasuk saya di dalamnya) adalah sekelompok lulusan STAN 1998 yang pasca wisuda/kelulusan belum mempunyai instansi tempat bekerja kelak.

Memang, tidak seperti kakak tingkat jurusan akuntansi lulusan tahun 1997 dan sebelumnya, dimana sejak semester tiga atau yang biasa disebut tingkat dua, mereka telah berstatus CPNS dan berhak mendapatkan gaji pokok sebesar 80% plus TC, mereka juga telah mendapatkan pilihan penempatan kerja pada instansi di Departemen Keuangan, BPK, dan BPKP sesuai dengan pilihan mereka.

Hal itu berbeda dengan yang kami alami, para lulusan 1998. Lulusan STAN Prodip Keuangan 1998 berada dalam masa transisi perubahan kebijakan yang dilakukan Departemen Keuangan khususnya terhadap STAN. Perubahan kebijakan yang kami alami berupa dihapusnya status CPNS dan dihapusnya pemberian gaji dan TC pada awal semester tiga sampai semester akhir kepada mahasiswa. Kebijakan ini diyakini muncul sebagai imbas dari terjadinya krisis moneter yang melanda Indonesia tahun 1997, dimana saat itu keuangan negara sedang morat-marit.

Kembali ke cerita semula. Mereka, kelompok Pajak Perjuangan yang semuanya berjumlah 50 orang, semula pada saat penentuan instansi yang ingin dipilih sebagai tempat mencari rezeki mereka kelak, adalah sekelompok mahasiswa jurusan akuntansi yang sebelumnya telah mendapat instansi di BPK berdasarkan pilihan mereka. Saat itu pilihan instansi yang ditawarkan kepada mahasiswa STAN yang akan lulus tahun 1998 mencakup seluruh instansi yang ada di Departemen Keuangan, BPK, dan BPKP.

Instansi Departemen Keuangan yang ditawarkan saat itu meliputi Sekretariat Jenderal, Direktorat Jenderal Pajak, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Direktorat Jenderal Anggaran, Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara, Badan Akuntansi Keuangan Negara, Badan Pengelolaan Pasar Modal, dan Badan Pendidikan dan Latihan Keuangan.

Tugas kami para “pencari kerja” ini adalah memilih dengan cara mengurutkan instansi-instansi tersebut berdasarkan prioritas pilihan masing-masing. Sebagai contoh, jika kita berminat untuk ditempatkan atau bekerja di Direktorat Jenderal Pajak, maka tulislah DJP pada urutan nomor satu, yang lain pada nomor urut berikutnya sesuai prioritas pilihan masing-masing.

Sebetulnya, sebelumnya BPK telah menerima calon lulusan STAN 1998 sebanyak 75 orang (termasuk saya didalamnya), namun entah kenapa pasca kelulusan tiba-tiba terjadi pembatalan jumlah yang diterima yaitu hanya sebanyak 25 orang saja, sehingga 50 orang tersisih berdasarkan peingkat IPK, terluntang-lantung belum mempunyai kepastian ditempatkan di instansi mana, sementara temen-temen yang sebelumnya tidak memilih BPK pada urutan pertama, telah mendapatkan instansi masing-masing sesuai pilihannya.

Keinginan kami, kami dapat ditempatkan di DJP, apalagi saat itu DJP masih membutuhkan banyak pegawai. Bahkan, informasi yang kami dapat jika ke-50 orang tersebut semuanya ditempatkan di DJP, DJP masih membutuhkan sekitar 14 orang lulusan 1998. Maka jadilah ke-50 orang itu menamakan kelompoknya sebagai kelompok Pajak Perjuangan (terinspirasi dari nama PDI-Perjuangan yang sedang ngetrend saat itu) yang berusaha melobi agar dapat ditempatkan di DJP.

Kemudian berkembanglah isu untuk sementara kami dialihkan ke DJP. Namun apa yang terjadi kemudian, ternyata ke-50 orang tersebut justru kemudian dialihkan ke BPLK, suatu instansi yang sebetulnya bukan pilihan mereka. Tidak jelas alasan penolakan itu, mungkin saat itu BPLK bukan instansi yang populer atau kurang keren di mata mereka. Bahkan, sebagai bentuk penolakan tersebut, sebagian teman saat itu katanya telah melakukan “protes” dengan menghadap Sekretaris BPLK dan Direktur STAN, namun apa boleh buat pimpinan menghendaki kami, ke-50 orang lulusan STAN 1998 yang “terlempar” dari BPK untuk ditempatkan di BPLK meskipun sebagian besar dari kami merasa kecewa (termasuk saya, rahasia ya!). Bersambung ke kisah “Penempatan ke Palembang”.

September 5, 2008 - Posted by | Coretan Kecilku

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: