Didi Carsidiawan

menggali inspirasi, menggali potensi

Penempatan Ke Palembang

Cerita ini lanjutan dari kisah sebelumnya.

Senin, 14 Juni 1999, lima orang pemuda berusia 20-an duduk dalam dua kursi barisan bagian tengah mobil bis Putra Remaja jurusan Palembang Sumatera Selatan. Setelah jadual keberangkatan tiba, pukul 13.30 WIB bis Putra Remaja pun perlahan-lahan melaju meninggalkan terminal Kampung Rambutan Jakarta Selatan menuju tempat tujuan, Palembang, Sumatera Selatan.

Ya…hari itu adalah hari keberangkatan kami berlima, Muhammad Nasir, Widodo Ramadyanto, Iik Muhammad Hikmat, Arif Masdi, dan saya dalam rangka penempatan kerja setelah menamatkan kuliah di STAN. Kami berlima sebelumnya sudah saling mengenal, apalagi besama Widodo dan Nasir saya sempat satu kelas. Bahkan ada cerita tersendiri dengan Nasir yang sangat konyol dan memalukan saya, seperti yang telah saya tulis pada tulisan sebelumnya.

Kenapa kami baru penempatan di tahun 1999? Setelah lulus dan ditempatkan di BPLK, pada bulan oktober 1998 sampai minggu pertama bulan Juni 1999 kami yang berjumlah 50 orang dimagangkan di sekretariat, pusdiklat, dan kampus STAN sambil menunggu SK CPNS kami terbit. Setelah itu di antara kami kemudian masing-masing mendapatkan penempatan kerja di unit-unit di lingkungan BPLK sesuai dengan yang telah ditentukan. Kami berlima mendapatkan penempatan kerja di Balai Diklat Keuangan II Palembang, suatu instansi vertikal BPLK di daerah.

Kembali ke cerita semula. Di dalam bis itu tampak sekali kekecewaan yang terlintas dari wajah Muhammad Nasir mendapatkan penempatan ke Palembang. Saya mah maklum saja, apalagi jika mengingat dia adalah lulusan yang hampir diterima di BPK, ya, dia berada pada urutan ke-26 dari peringkat IPK anak-anak yang semula akan diterima di BPK. Artinya, dia juga merupakan lulusan yang mempunyai IPK tertinggi di antara 50 orang yang ditempatkan di BPLK. Saya juga tahu alasan lain kenapa dia begitu kecewa dengan penempatan itu, salah satunya karena sebagian besar – mungkin sekitar 35 dari 50 orang tersebut – ditempatkan di Jakarta.

Saya memahami protesnya dia jika mengingat IPK yang dia peroleh. Ada realita selama ini, lulusan yang mempunyai IPK bagus selalu ditempatkan di Pusat/Jakarta. Tapi apa boleh buat, pimpinan yang menentukan.

Sekitar pukul lima sore kami telah sampai di pelabuhan Merak, Banten. Untuk menyebrangi Selat Sunda, selanjutnya bis kami diangkut oleh kapal feri sampai ke pelabuhan Bakauheni, Lampung. Setelah itu perjalanan bis pun dilanjutkan menyusuri jalanan melewati Provinsi Lampung.

Kota Palembang sebetulnya sangat asing di telinga kami. Bahkan saya berfikir Palembang adalah sebuah tempat “nun jauh di sana”, atau paling tidak sangat jauh dari Jakarta (memang kenyataannya sangat jauh sekitar 20 jam perjalanan dengan bis, atau 50 menit dengan pesawat). Meski dalam istilah atau peribahasa sunda saya sering mendengar kata “palembang”, tetapi tidak berfikir itu adalah sebuah nama wilayah di Indonesia, melainkan suatu wilayah yang entah dimana, di laut, di hutan belantara, atau suatu wilayah yang menyeramkan, tempat pembuangan hantu-hantu, dan banyak makhluk halusnya!

“ka sabrang ka palembang, ulah balik-balik deui kadieu”, artinya (“pergilah! hai makhluk halus!) ke sabrang (atau) ke palembang dan jangan kembali lagi ke sini!”. Itulah peribahasa yang sering aku dengar di kampung halamanku (pasundan) jika orang tua sedang mendiamkan anak kecilnya yang sering rewel seakan-akan diganggu oleh makhluk halus. Itulah pengetahuanku tentang Palembang saat itu! (maaf kepada wong kito, mungkin saya kurang belajar tentang peta saat itu. Tapi sekarang Palembang sudah menjadi kota metropolitan baru, maju, dan Sumsel merupakan provinsi terkaya nomor lima di Indonesia! Sumsel hebat!)

Bahkan, di dalam bis kami pun disuguhkan informasi-informasi yang menyeramkan tentang Palembang oleh armada bis. “Palembang terkenal dengan kerawanannya”, katanya. Janganlah kamu pergi sendirian di malam hari nanti ada yang malak (nodong). Orang Palembang suka “nujah” (sebuah kata dalam bahasa Palembang yang artinya “menusuk perut dengan pisau atau sejenisnya”). Kata “nujah” itulah kosakata pertama dalam bahasa Palembang yang pertama saya tahu dan dengar saat itu, di dalam bis pula!

Sampai pul (tempat pemberhentian terakhir) bis Putra Remaja di Jl. M. Isa No. 212 Palembang sekitar pukul 4.00 pagi. Kami kemudian dijemput oleh kakak ipar Widodo dengan menggunakan mobil kijang dan diantarkan sampai kos-kosan kakak tingkat tepatnya di rumah kos Pak Mungin, Jl. Kapten A. Rivai Lorong Masjid II Palembang. Di kosan tersebut rupanya sudah banyak berkumpul para alumni STAN Prodip, baik yang satu angkatan, maupun kakak tingkat yang kos di sana, antara lain Joko Triyanto (DJP-akuntansi ’98), Sutrisno (BUPLN-PPLN ’98), mas Hermawan Sukmajati (BUPLN-PPLN’96) dan banyak lulusan STAN Podip lain yang saya lupa namanya, serta Bapak Unggul Kusalawan R. yang saat itu menjabat Kasubsi Penjenjangan Balai Diklat Keuangan II Palembang.

Selama seminggu, kecuali Widodo yang langsung tinggal bersama saudaranya di Kertapati, kami ditampung oleh teman-teman di kosan tersebut. Selama itu pula, dengan di antar kakak-kakak tingkat, pencarian tempat kos untuk kami berempat pun dilakukan. Setelah berhari-hari mencari, keliling daerah Kampus sampai seputar Kambang Iwak, tak menemukan satu kosan pun buat kami. Akhirnya kemudian diputuskan Iik bersama Arif tinggal di kosan Pak Mungin, sementara saya dan Nasir kos di rumah Pak Mukiran tepat di belakang kosan tersebut. Bersambung ke kisah “Ditinggalkan Kawan-Kawan Seperjuangan”.

September 5, 2008 - Posted by | Coretan Kecilku

10 Komentar »

  1. wah seru cerita-nya, menyenangkan, almost like reading tetralogi laskar pelangi🙂, terusin yah di ceritanya, terbaik euy kang didi..
    ps. “ditinggalkan kawan-kawan seperjuangan” belum dibikin yah?
    diterusin yagh..

    Komentar oleh iik m hikmat | September 16, 2008

  2. wuih sahabat lama nih…iik makasih udah mampir ke blogku yah…dah lama nyari blog iik ga ketemu nih di google…bikin donk biar tambah ramee hehee..tunggu aja cerita berikutnya…masih dalam proses penerbitan hehehe….

    Komentar oleh Didi Carsidiawan | September 16, 2008

  3. salam kenal, wah bagus juga ceritanya bisa mengingat kembali kenangan lama, ane alumni stan 98 juga, sudah 4 taun penempatan di bpkp palembang, kalau boleh tau ente waktu tingkat 3 dulu kelas berapa ya? lupa-lupa inget nih, kawan ente iik sekarang ada di mana? di link situs tambahin dong ke bpkp, kami ini ex depkeu juga tapi belum remunerasi, thanks

    Komentar oleh h4r | September 19, 2008

  4. salam kenal juga,makasih dah berkunjung ya.. waktu tingkat 3 kalo ga lupa saya di kelas III-14 (ato IIID-23) waduh dah lupa nih. Iik tahun ’99 dua bulan setelah penempatan di balai pindah ke DJLK, setelah reog depkeu ga tahu posisinya dimana sekarang mungkin di DJPB ato DJPK. tapi ada emailnya: i_mhikmat@yahoo.com ato Hp-nya 08121058971. ya mudah2n bpkp cepet renumerasi juga ya. trim

    Komentar oleh Didi Carsidiawan | September 21, 2008

  5. Salam kenal kang..saya baru lulus niy, lagi nunggu penempatan..
    Daripada kaget harus ke daerah cari2 cerita senior..
    Kalo gada akang, termasuk sulit nyari cerita pengalaman penempatan. Makasi ya kang.

    Komentar oleh ramDani | Oktober 23, 2008

  6. salam kenal juga Dan, makasih dah mampir di blog ini. moga dapat penempatan yang sesuai harapan ya…

    Komentar oleh Didi Carsidiawan | Oktober 27, 2008

  7. Hehehe….
    Geli bgt rasanya dnger peribahasanya org pasundan, tp skrg kl dnger nama ‘Plembang’ udah ga asing lg dong..Pa lg skrg kn pemprov Sumsel lg gencar2nya mencanangkan program ‘Visit Musi 2008’ yg tentu aja promosinya nympe kmana2 lwat media apapun. Gmna mas Didi, Palembang nggak serem2 amat kan? Amat aja gak serem. Salam Piss untuk kawan galo-galo dri aq gades Plembang..

    @ didi
    makasih dah mampir ya..itumah dulu atuh ksannya palembang tuh serem, tapi dah nyampe eh ternyata ga tuh…palagi sekarang palembang dah bagoes, tertata, maju, pokoke hebatlah palembang (ini serious lho ya..!)

    Komentar oleh Tya | November 29, 2008

  8. Waduh mas, cerita yg membangkitkan kenangan… hehehe..
    Namaku kok gak tercantum ya..🙂 kan penghuni rivai juga..
    Sukses deh buat mas didik..
    Segala kenangan itu akan selalu abadi, dan karenanya kita menjadi seperti apa kita skrg mas.. I’ll never forget those times…
    Salam buat mas glempo…

    Komentar oleh Hermawan | Agustus 22, 2009

  9. salam kenal sebelumnya… saya jg kerja di pegawai pemerintah kantor di daerah jaka baring dekat kejaksaan itu… saya penempatan disini br maret kemrn penempatan disini.., nah masalahnya saya pgn ngekos nih… tp blm dpt kos2an yg sreg n nyaman… bs minta tlg ga ya…??? bantuin aq cari kos2an yg nyaman n murahlah… ga mahal2 bgt… bs ga ya…??? plese dong bantuin aq… oya hub aja aq di no 0711 6071226 siapa aja deh yg tau kosan nyaman n enaaaaaakk… thank..

    Komentar oleh Henny lukmawati | Oktober 4, 2009

  10. mas terima kasih ya atas infonya…. tp kemarin aq hub no telp kosnya mas didi…ternyata udah penuh…. huuuuuuhhhh tp ibu kosnya mau bantu cari kos2an deket situ jg…. he2 tp aq blm lihat jg sih…. next time pasti aq lihat… thanx…

    Komentar oleh Henny lukmawati | November 9, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: