Didi Carsidiawan

menggali inspirasi, menggali potensi

Nasib “Guru Oemar Bakrie” Tinggal Kenangan

Guru Oemar Bakrie tempoe doeloe

guru Oemar Bakrie tempo doeloe

Umar Bakri…Umar Bakri…
Pegawai Negeri…
Umar Bakri…Umar Bakri…
Empat puluh tahun mengabdi…
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati…
Umar Bakriiiiiii…..

Itulah sepenggal syair lagu yang berjudul Guru Oemar Bakrie yang dicipta dan dinyanyikan oleh Iwan Fals. Lagu tersbut tercipta sebagai bentuk kritikan, sindiran, sekaligus protes kepada pemerintah, juga berisi ungkapan keprihatinan dari seorang Iwan Fals terhadap nasib kehidupan ekonomi pegawai negeri sipil khususnya para guru di Indonesia yang terpinggirkan kesejahteraannya dikarenakan gaji mereka yang kecil, walaupun secara umum atau sebagian besar PNS termasuk TNI dan Polri memang sampai sekarang masih bergaji kecil.

Namun, bagi para guru, lagu tersebut mungkin akan segera menjadi kenangan dan terlupakan begitu saja dari ingatan para guru mengingat mulai tahun anggaran 2009 pemerintah benar-benar akan mewujudkan komitmennya untuk meningkatkan kesejahteraan para guru dan pendidik di Indonesia.

Mulai APBN 2009, pemerintahan SBY-JK telah mengalokasikan dana untuk sektor pendidikan sebesar Rp 224 triliun atau 20% dari total RAPBN 2009 yang diajukan kepada DPR. Pemenuhan anggaran pendidikan sebesar 20% tersebut sesuai dengan yang diamanatkan dalam UU Guru dan Dosen.

Tak dapat dibantah lagi, ini merupakan informasi yang sangat menggembirakan bagi para “pahlawan tanpa tanda jasa” itu. Bagaimana tidak, sebesar 27% dari Rp 224 triliun tersebut atau sekitar Rp 60 triliun dialokasikan khusus untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan dosen berupa kenaikan gaji dan tunjangan dalam kisaran Rp 2 juta – Rp 13,5 juta.

Sebagai contoh, guru PNS golongan II-b tanpa sertifikat profesi dengan masa kerja 0 tahun akan memperoleh gaji minimal Rp 2 juta. Untuk guru golongan IV-e dan bersertifikat profesi akan digaji sebesar Rp 6,9 juta. Sedangkan untuk guru besar golongan IV-e dan bersertifikat profesi gajinya akan meningkat drastis dari Rp 5,1 juta menjadi Rp 13,5 juta per bulan.

Pemerintah juga akan lebih memperhatikan para guru yang bertugas di daerah terpencil. Mereka diberikan kompensasi berupa gaji yang lebih besar dibandingkan dengan gaji yang diterima oleh para guru yang tidak bertugas di daerah terpencil meskipun golongannya sama.

Namun, jumlah tersebut baru berupa gaji lho! tidak termasuk tunjangan fungsional dan tunjangan profesi bagi para guru yang telah mempunyai sertifikat profesi. Maka, dapat dipastikan sebentar lagi pundi-pundi para guru dan dosen mendadak “meluber” dengan rupiah, kesejahteraan mereka akan meningkat secara drastis dan signifikan, serta level profesi guru menjadi kelas satu dibandingkan pegawai negeri lainnya.

Saya sangat mendukung dan menghormati komitmen pemerintah tersebut. Diharapkan dengan ditingkatkannya kesejahteraan para guru, praktek-praktek oleh para guru seperti mencari kerja sambilan, berjualan buku pada murid-muridnya, atau bahkan mungkin mengkorupsi dana BOS dan lain-lain dapat segera hilang.

Diharapkan dengan begitu, wibawa dan profesi guru meningkat dan lebih dihormati, para guru akan lebih fokus pada tugas dan komitmennya sebagai pendidik, yang akhirnya kualitas pendidikan di Indonesia akan sejajar dengan negara-negara maju dengan menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas.

September 14, 2008 - Posted by | Artikel Bebas

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: