Didi Carsidiawan

menggali inspirasi, menggali potensi

Ditinggalkan Kawan-Kawan Seperjuangan

Cerita ini lanjutan dari kisah sebelumnya.

Hari Senin, 21 Juni 1999 pukul 07.30 WIB sesuai surat tugas penempatan, kami berlima telah menginjakan kaki di kantor Balai Diklat Keuangan II Palembang, kompleks GKN Jl. Kapten A. Rivai No. 4 Palembang. Ya..hari itu adalah hari pertama kami mulai memasuki dunia kerja yang sesungguhnya. Kantor kami terletak di lantai 4 bersebelahan dengan kantor KPDIKR [sekarang instansinya sudah almarhum..] dan berada satu gedung dengan Kanwil III DJP Sumbagsel. Itu adalah kantor operasional, sedangkan gedung yang biasa digunakan untuk pelaksanaan diklat terletak di Jl. Kol. Atmo No. 56 Palembang yang merupakan gedung milik Kanwil VI Anggaran waktu itu.

Di Balai Diklat Keuangan II Palembang saat kami tiba rupanya sudah banyak pegawai yang merupakan kakak tingkat kami di STAN, antara lain mas Amrul Yusroni dan mas Tri Awal Rahtantio [keduanya STAN-akuntansi ’95], mas Joni Aldwiansyah dan mas Slamet Riyadi [keduanya Prodip Anggaran ’96], mas Maman Suhendra, mas Azwir Zamrinurdin, emba Siti Rohmah, dan emba Sri Purwaningsih [semuanya STAN-akuntansi ’97].

Adapun para pejabatnya adalah Bapak Drs. Agus Hermanto, M.M. [Kepala Balai], Bapak [alm] Drs. J. Arie Pratomo [Kasubbag TU], Bapak Mashuri, S.E. [Kasi Penyelenggaraan], Bapak Baihaki, S.E. [Kasubsi Teknis dan Fungsional], Bapak Unggul Kusalawan R., S.E. [Kasubsi Penjenjangan], dan Bapak Drs. Endang Wildan [Kaur Umum].

Selama kurang lebih satu bulan sejak pertama kali memasuki kantor, kami berlima belum mendapat penugasan yang spesifik di kantor, sehingga kejenuhan selalu menghinggapi kami setiap hari. Ujung-ujungnya seringkali kami hanya duduk-duduk dikantor tak tahu apa yang harus dikerjakan. Keadaan ini sering kali membuat kami tersiksa.

Beruntung sekitar awal bulan Agustus 1999 atau satu setengah bulan sejak kami masuk kantor itu, ada kabar yang menggembirakan kami berlima dari Jakarta. Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan Departemen Keuangan melayangkan surat penawaran untuk pindah ke DJLK. Ujian penyaringannya berupa wawancara saja. Kami berlima pun tidak menyia-nyakan kesempatan untuk pindah tersebut. Kami semua berangkat ke Jakarta untuk mengikuti wawancara di DJLK. Di sana kami bertemu banyak teman yang dulu tergabung dalam kelompok Pajak Perjuangan dengan tujuan yang sama, yaitu mau mengikuti wawancara pindah ke DJLK. Sepertinya, tawaran tersebut memang sasarannya adalah para lulusan angkatan 1998 yang 50 orang tersebut.

Wawancara pun selesai hari itu. Hasilnya pun langsung kami terima hari itu juga. Widodo Ramadyanto, Muhammad Nasir dan saya harus kecewa dan terpaksa kembali ke Palembang karena dinyatakan tidak diterima di DJLK, sedangkan Iik Muhammad Hikmat dan Arif Masdi berhasil diterima. Mereka berdualah kawan seperjuangan yang pertama kali meninggalkan kami, meninggalkan kami dari Balai Diklat Keuangan II Palembang.

Tercatat ada tiga belas orang dari kelompok Pajak Perjuangan yang eksodus dari BPLK ke DJLK saat itu, yaitu selain Iik dan Arif juga termasuk Intan Puspitarini, Melly Maiesta, Sri Purwati, M. Syihabudin, Idris Aswin, Suhendi, Jackwin Simbolon, Amin Rohmad, Robby Martaputra, dan kedua saudara kembar yaitu Frengky Setiawan dan Ferry Setiawan. Mereka pindah berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor KM-46/SJ.2.1/UP.9.1/1999 tertanggal 6 September 1999.

*****rehat*****

Tak terasa waktu telah berlalu. Sudah hampir satu tahun pada pertengahan tahun 2000 saya bersama Nasir dan Widodo menjalani rutinitas kantor. Status kami pun sudah bukan CPNS lagi, kami pun sudah terbiasa dengan tugas masing-masing. Selama itu pula kami bertiga telah melanjutkan kuliah di Universitas Tridinanti Palembang, tepatnya sejak September 1999 saat kami masih berstatus CPNS. Meskipun sebetulnya tidak ada motivasi lain meneruskan kuliah itu, bukan untuk sebuah karier kami kelak seperti pada umumnya. Kami bertiga sepakat meneruskan kuliah hanya sekadar untuk mengisi kekosongan waktu saja, ya, waktu selepas pulang dari kantor.

Sekitar bulan Mei 2000, kami mendapat tawaran mengikuti ujian saringan masuk Diploma IV STAN. Pesertanya adalah lulusan STAN jurusan akuntansi tahun 1998 dan sebelumnya. Sebetulnya persyaratan ini di luar “pakem” kebiasaan sebelumnya, dimana salah satu syarat yang berlaku sebelumnya untuk bisa ikut tes penerimaan Diploma IV STAN adalah harus sudah bekerja selama 2 tahun di kantor. Padahal kami bertiga baru satu tahun bekerja. Ini, kami anggap sebagai bonus, bahkan saya berfikir mungkin ini kebijakan dari STAN untuk mengobati kekecewaan para lulusan 1998 yang ditempatkan di BPLK, para lulusan yang dulu menamakan dirinya Pajak Perjuangan. Itu hanya prasangka saya saja.

Nasir dan Widodo sangat antusias untuk mengikuti ujian itu. Bahkan kakak tingkat seperti mas Maman, mas Azwir, dan emba Siti tidak kalah semangatnya untuk mengikuti ujian. Mereka sangat mantap untuk meninggalkan Palembang. Rupanya merekapun merasakan hal yang sama dengan kami bertiga, meskipun dengan alasan yang berbeda-beda.

Saya pernah di-curhati mas Maman [maaf nih mas sedikit buka rahasia hee…] yang mengatakan bahwa dia ingin sekali diterima di D-4 tahun ini dengan alasan ingin segera “berpisah” dengan istrinya, emba Sri Purwaningsih, yang merupakan teman satu angkatan dan sama-sama ditempatkan di Balai Diklat. Berpisah dalam arti tidak satu kantor lagi bersama istrinya. ”Terdapat ketidaknyamanan”, katanya, berada dalam satu kantor bersama istrinya selama ini karena berbagai faktor. Pun, dengan emba Siti Rohmah, sudah lama sejak penempatannya di Palembang berharap dapat berdekatan dengan orang tuanya yang tinggal di Jakarta. Saya sering mendengar tentang keluhannya itu. Di sisi lain, mungkin dia pun ingin menyusul “calonnya”, yaitu mas Slamet Riyadi yang telah lebih dari setengah tahun belakangan ini meneruskan kuliahnya di STAN pada program studi Ajun Khusus.

Bagaimana dengan saya? Sepertinya hanya saya yang kurang begitu antusias untuk mengikuti ujian saringan masuk D-4 saat itu. Sudah hampir satu tahun kuliah di Universitas Tridinanti, itulah, yang membuat saya bimbang untuk mengambil Diploma IV, sesuatu yang tidak dirasakan oleh Nasir dan Widodo. Ada perasaan sayang untuk meninggalkan “sesuatu” yang telah dijalani dalam satu tahun tersebut. Apalagi tinggal satu tahun lagi S-1 tersebut bisa dituntaskan. Entah mengapa perasaan itu telah mengalahkan keinginan untuk kembali ke Jakarta seperti selama ini. Namun demikian, toh saya pun akhirnya turut pula ikut mendaftar untuk mengikuti ujian tersebut bersama teman-teman yang lain meski dengan “ogah-ogahan” dan tanpa persiapan yang matang. Ujian penerimaan D-4 STAN-pun saya lalui dengan “lancar”.

*****rehat*****

Siang itu, sekitar bulan Juli 2000 pas jam istirahat diklat Bendahara Pengeluaran yang dilaksanakan Balai Diklat di Jl. Kol. Atmo dimana saat itu saya adalah salah satu pesertanya, saya mendapat telepon dari emba Siti yang memberitahukan telah ada hasil pengumuman D-4. Dia memberitahukan bahwa di antara yang berenam yang mengikuti tes hanya saya yang tidak lulus! Dia kemudian menghibur saya agar bersabar dan jangan berkecil hati.

Saya kaget sekali mendengarnya. Kaget bercampur sedih! Hanya saya yang tidak lulus! [meskipun memang sedari awal ada feeling akan hal itu]. Perasaan itu muncul karena sebelumnya saya menyangka di antara teman-teman mungkin “masih” ada yang tidak lulus dan termasuk saya. Jadi saya beranggapan “ah..gak mungkin semuanya lulus, so pasti masih ada yang tinggal”. Saya terlanjur mengkondisikan pikiran itu selama ini, selama sebelum pengumuman itu. Saya sangat terpukul sekali saat itu, terbayang teman-teman seperjuangan akan segera meninggalkan saya.

Sore hari setelah diklat, saya cek pengumuman itu di kantor dan ternyata memang hanya saya dari Balai Diklat yang tidak lulus tes D-4. Yakinlah sudah saat itu, saya akan ditinggalkan oleh hampir seluruh kawan seperjuangan di kantor, mas Maman, mas Azwir, emba Siti, emba Sri [turut suaminya, mas Maman], Nasir, dan Widodo. Timbul penyesalan kenapa saya tidak serius mempersiapkan dan mengikuti tes D-4 saat itu.

Maka lengkaplah sudah ”penderitaanku”. Satu persatu ditinggalkan kawan seperjuangan. Di awali oleh Arif dan Iik yang hijrah ke DJLK, lalu mas Joni yang mengikuti kuliah program Pembantu Akuntan, mas Slamet yang kuliah program Ajun Khusus, dan mas Tri Awal yang lulus tes D-4 [semuanya terjadi kurang dari setahun sebelumnya], dan belakangan adalah eksodusnya segerombolan kawan yang hijrah ke Diploma IV STAN. Saat itu tinggalah aku dan mas Amrul alumni STAN yang tersisa di Balai Diklat Keuangan II Palembang. Meski kemudian dia pun turut meninggalkan saya karena mendapat beasiswa S-2 ke ITB pada tahun 2004.

Semua peristiwa, semua kejadian selalu ada hikmahnya. Ternyata hijrahnya mereka dari Palembang ke D-IV STAN telah meretas jalan bagi mereka, kawan-kawanku, untuk jenjang pendidikan berikutnya. Tercatat, pasca lulusnya mereka dari D-IV STAN, mas Maman dapat melanjutkan beasiswa program masternya di Korea Selatan, Widodo telah satu setengah tahun yang lalu melanjutkan beasiswa program masternya di Melbourne Australia, dan Nasir telah pula berangkat ke Australia menyusul Widodo.

Namun satu yang saya sesalkan [??], adalah hirjahnya mereka dari instansi semula, BPPK [dahulu BPLK]. Pasca kelulusan D-IV, mas Azwir hijrah ke DJLK, mas Maman, Nasir, dan Widodo hijrah ke Badan Kebijakan Fiskal. Bahkan jauh-jauh hari sebelumnya setelah menamatkan program Ajun Khusus, mas Slamet Riyadi pun kemudian hijrah ke DJAPK. Sementara saya [dan mas Joni yang kembali dan masih tersisa] ditengah ketidakjelasan sistem mutasi di BPPK, masih tertinggal di Palembang. The End

September 21, 2008 - Posted by | Coretan Kecilku

11 Komentar »

  1. Kang Didi, apa kabar? Hari ini saya ba’da zuhur ketemuan dgn Boik. Beliau memberi info kalo ada blogger yang patut dilihat layarnya karena bercerita ttg ‘perjuangan’ kita dahulu. Saya, alhamdulillah sehat. Kami sedang menanti kelahiran putra ke-3 edisi Jakarta 2. Edisi 1 Ahmad Zaky (Palembang 1); yang edisi 2 Hanin Arifah (jakarta 1). Baca tulisan kang Didi jadi kangen dgn Palembang dan sahabat di sana. Salam buat kawan2x ya Kang.

    Komentar oleh Maman Suhendra | September 22, 2008

  2. Tulisan yang bagus,
    Anyway, aku kan habis DIV masih menemanimu di Palembang, walau cuma setahun…

    Komentar oleh Widodo Ramadyanto | September 23, 2008

  3. @ mas Maman Suhendra
    Alhamdulillah kabar baik mas, maaf nih baru sempet balas. yah inimah sekadar blog-blogan aja mas untuk isi waktu luang aja. mas maman “terlibat” juga nih dalam ceritanya hehehe, gpp yah…o ya selamat ya dah mau nambah putranya, mudah2n lahir dengan selamat dan lancar, menjadi anak yang sholeh/sholehah..amiinn. salamnya udah disampaikan ke temen2, ditunggu kapan2 main ke palembang yah. dari saya salam juga pada temen2 “pelaku’ cerita di atas ya hehehe….semoga semuanya sukses2 selalu…

    @ jeng Widodo
    wuih gimana kuliahnya dah beres lom wid? sukses selalu ya..lupa aku dak pesen daging kanguru dari australi hehehe…jeng Nasir gimana? masih idup? dah brangkat lom? yah salam sama temen-temen ya…

    Komentar oleh Didi Carsidiawan | September 24, 2008

  4. Assaalamualaikum Wr. Wb.

    Apa kabar Mas Didi ? semoga sehat2 selalu.
    Aku jadi nglamun nih ketika baca tulisanmu.

    Semoga sukses.

    Wassalam

    Komentar oleh temen sekelas, sekantor dan sekamar | Oktober 2, 2008

  5. Wa’alaikummussalam wr.wb.

    Alhamdulillah kabar saya baik Mas Nasir. Sebaliknya gimana kabarmu? Wis mudah2an sukses studinya ya…ku tulis dicerita itu M.Nasir udah berangkat ke negeri kanguru, itu berdasar info dari orang yang dapat dipercaya lho… jadi jangan salahkan diriku jika ditulisan itu salah ya. BTW kapan balik dari studi? Jangan lupa kalo balik bawakan daging kanguru ya hehehe….

    Komentar oleh Didi Carsidiawan | Oktober 6, 2008

  6. Assalamualaikum wr. wb.

    Jangan pernah merasa ditinggal ya kang..
    Gabung aja ke milis angkatan ..

    Komentar oleh idris aswin | Oktober 28, 2008

  7. Wa’alaikum salam wr.wb.
    Wah temen seperjuangan lagi nih. makasih dah mampir kang idris. dah lama gak temu lagi, modah2an sukses selalu. kasih tahu donk milisnya habis nyari-nyari gak ketemu nih milis angkatan kita…

    Komentar oleh Didi | November 6, 2008

  8. Apa kabar? Masih di Palembangkah?
    Iya, mas idris bener tuh.. gabung aja di milis yahoogroups stan 95. Biar rame..he..he..

    Komentar oleh intan | November 21, 2008

  9. Alhamdulillah baik n masih di Palembang nih Tan. Pa kabar Erwansyah? salam yah, sukses selalu…

    Komentar oleh Didi | November 21, 2008

  10. Kang Didi, boleh tahu alamat e-mail-nya?

    Komentar oleh Maman Suhendra | Maret 5, 2009

  11. Didi, menyentuh sekali tulisannya. Curhat soal ditinggalkan oleh teman-temannya. Tapi bukan aku yang bikin widodo meninggalkanmu (lagi) lho. Aku hanya jalani suratan takdirku. Kalau mau kumpul, ya ke Jakarta deh. Tapi kalau kamu ke Jakarta, kasihan Joni dong. Atau dua-duanya aja ke Jakarta, biar rame lagi.

    Komentar oleh Sri Rahayu | Oktober 27, 2009


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: